"Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, Madrasah dituntut tidak hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan spiritual. Berangkat dari semangat tersebut, Kementerian Agama menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penguatan dan Pengembangan Asesmen Bimbingan dan Konseling (BK) pada Madrasah, Kamis (11/6/2026)."
Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, Madrasah dituntut tidak hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan spiritual. Berangkat dari semangat tersebut, Kementerian Agama menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penguatan dan Pengembangan Asesmen Bimbingan dan Konseling (BK) pada Madrasah, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang menghadirkan para akademisi dan pakar Bimbingan dan Konseling ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama, H. Hendri Pani Dias. Dalam arahannya, beliau mengajak seluruh peserta untuk melihat kembali pentingnya peran layanan BK sebagai garda terdepan dalam memahami dan mendampingi peserta didik.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk berkembang dan berubah. Oleh sebab itu, pendekatan dalam layanan BK juga harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
"Ternyata otak bisa di-reset. Ada tiga hal yang perlu kita pahami, yaitu apa yang dikonsumsi otak agar berfungsi dengan baik, bagaimana sistem kerja otak terus ditingkatkan, dan bagaimana pola sistem itu bekerja. Dari sinilah kita belajar bahwa setiap anak memiliki potensi yang harus dipahami dengan cara yang tepat," ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa memahami peserta didik tidak bisa hanya berdasarkan asumsi. Diperlukan instrumen asesmen yang mampu memotret kondisi, kebutuhan, potensi, dan tantangan yang dihadapi peserta didik secara objektif dan komprehensif.
"Karena itulah kita membutuhkan instrumen yang representatif. Kita ingin membangun sistem yang benar-benar mampu membantu guru memahami anak didiknya. Untuk itu, kita menghadirkan para narasumber yang berpengalaman agar dapat memberikan pemikiran dan kontribusi terbaik," katanya.
Meski demikian, H. Hendri Pani Dias mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga berkomitmen mengimplementasikan hasil yang diperoleh.
"Saya tidak berharap semuanya langsung sempurna karena ini baru permulaan. Namun mari kita bersama-sama menjaga komitmen, konsisten menjalankan dan mengimplementasikan apa yang telah kita rancang hari ini demi masa depan anak-anak kita," ujarnya.
Dalam suasana yang penuh semangat dan harapan, beliau juga menyampaikan pesan yang menggugah tentang posisi Guru Bimbingan dan Konseling di lingkungan madrasah.
"Jangan lagi Guru BK dianggap seperti tong sampah madrasah. Guru BK bukan tempat membuang berbagai persoalan semata, tetapi sahabat, pendamping, dan penuntun yang membantu peserta didik menemukan jalan terbaik dalam kehidupannya," tegasnya yang disambut antusias para peserta.
FGD tersebut menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman luas di bidang pendidikan, psikologi, dan bimbingan konseling, yaitu: Prof. Dr. Ardimen, S.Ag., M.Pd., Kons, Dr. Dasril, S.Ag., M.Pd. Serta Nori Natalia, S.Psi.I., S.Pd., M.Pd.
Melalui forum ini, para peserta bersama-sama merumuskan langkah strategis untuk menghasilkan instrumen asesmen diagnostik Bimbingan dan Konseling pada Madrasah. Instrumen tersebut diharapkan menjadi fondasi penting dalam memberikan layanan BK yang lebih terukur, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan nyata peserta didik.
Lebih dari sekadar sebuah kegiatan, FGD ini menjadi penanda dimulainya ikhtiar bersama untuk menghadirkan layanan BK yang lebih bermakna di madrasah. Sebab di balik setiap peserta didik yang berhasil menemukan potensi terbaiknya, selalu ada guru yang mendengar, memahami, dan membimbingnya dengan sepenuh hati.